Kasus Kematian Satu Keluarga Di Kalideres, Polisi : Meninggal Dengan Wajar Dalam Kondisi Tidak Wajar

Bagikan:

AshefaNews – Kasus kematian empat orang satu keluarga dalam rumah dikawasan Kalideres Jakarta Barat hingga kini kini telah terkuak oleh Gabungan Polda Metro Jaya dengan Tim Ahli Forensik. 

Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi mengatakan dari hasil penyelidikan yang sangat detil oleh pihaknya ini menghasilkan kesimpulan bahwa para korban tewas yang ditemukan, dipastikan meninggal dalam keadaan wajar.

“Dari hasil penyelidikan kami yang sangat detil ini kami sudah temukan kematian yang terjadi di TKP Kalideres ini adalah kematian wajar dalam kondisi yang tidak wajar. Ini merupakan fenomena yang cukup unik dan bagi kami pengalaman berarti karena sangat jarang kasus seperti ini,” ujar Hengki dalam keterangannya di Mapolda Metro Jaya, Jumat 9 Desember 2022.

Hengki menjelaskan kondisi ridak wajar dalam pengungkapan kasus tersebut yakni dengan petugas yang menemukan rusaknya sidik jari para korban, ditambah dengan adanya salah satu korban yang telah meninggal sejak Maret 2022, namun hanya didiamkan di dalam kamar hingga membusuk oleh para korban lainnya saat masih hidup.

Hengki mengatakan sidik jari para korban yang rusak akibat kondisi jasad yang sudah membusuk membuat polisi kebingungan untuk pengungkapan. 

“Kami terus terang memiliki kendala pada saat cocokkan sidik jari kulit jari sudah rusak. Jadi baik gunakan metode konvensional maupun alat khusus medis ini tidak bisa diangkat kembali,” ujarnya. 

Diketahui temuan empat mayat manusia dalam satu rumah di Kalideres Jakarta Barat terbongkar warga lantaran mencium bau busuk yang sangat menyengat di sekitar rumah para korban paga Kamis 10 November 2022 lalu.

Gabungan Polda Metro Jaya dan Tim Ahli Forensik dari berbagi rumah sakit san kampung ternama pun di datangkan untuk bantuan penyelidikan selama satu bulan untuk mengungkap kasus tersebut lantaran ditemukan banyaknya kejanggalan yang ditemukan polisi di TKP.

Empat mayat manusia dalam rumah tersebut juga ditemukan sudah mengering akibat pembusukan, satu diantaranya jasad yang ditemukan bahkan sudah menjadi seperti mumi. 

Didalam rumah tempat para korban ditemukan juga polisi temukan banyak buku buku tentang berbagai agama dan juga ada satu buku mantra ajaran tertentu yang mencurigakan. 

Buku mantra yang ditemukan itu diduga kuat menjadi ritual yang dilakukan salah satu korban yang bernama Budiyanto. 

Penyelidikan yang berkembang hingga sejauh ini disimpulkan polisi bawah para korban tewas secara wajar akibat faktor penyakit, indikasi tersebut diperkuat dengan tidak ada tanda kekerasan pada tubuh masing masing korban.

Hengki mengatakan dengan tidak adanya unsur pidana, kasus temuan empat mayat di Kalideres pun di tutup oleh Polisi, serangkaian penyelidikan tim gabungan berulang kali memastikan tidak ada temuan unsur pidana dalam kasus tersebut. 

“Jadi apa yang kami lakukan ini masih tahap penyelidikan apakah ada unsur pidana. Jadi kalau sudah tidak ketemu peristiwa pidana maka hasil penyelidikan akan dihentikan. Tapi kalau ini pidana kami harus temukan dua alat bukti untuk temukan tersangkanya. Jadi karena ini bukan peristiwa pidana maka fase penyelidikan ini kami hentikan,” ujarnya.

Sementara itu, Ahli kedokteran forensik RS Polri, dr Asri, mengatakan kematian satu keluarga Kalideres, diawali pertama kali meninggal adalah korban yang bernama Rudiyanto Gunawan (71), Renny Margaretha (68), Budiytanto Gunawan (68), dan Dian (42).

Para korban dipastikan meninggal akibat penyakit yang diderita masing masing korban. 

“Dengan jelas dan yakin kami menyatakan bahwa sebab kematian Pak Rudi akibat penyakit saluran cerna, Ibu Renny adalah kelainan payudara. Kemudian sebab kematian Pak Budi serangan jantung yang akut, dan Bu Dian merupakan gangguan pernapasan dan disertai penyakit pernapasan kronis,” ujarnya.

Tim Ahli Forensik RS Polri pun sangat yakin empat mayat yang ditemukan tersebut sama sekali tidak ditemukan adanya unsur pidana.

“Pada keempat jenazah kami yakin tidak ditemukan kekerasan dan ditemukan analisa feses, yaitu karbohidrat dan serat pada Pak Budi dan mba Dian. Itu sudah menyingkirkan dugaan mereka berdua meninggal karena kelaparan,” ujarnya.

(GE – AT)

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top