Aksi Demo Peringatan Hari Buruh Di Semarang Di Awasi Bawaslu Jateng

Bagikan:

AshefaNews, Semarang – Jika biasanya hari buruh identik dengan pengawalan aparat polisi, pada peringatan hari buruh yang digelar ratusan buruh Jawa Tengah di Kota Semarang pada Senin, (01/04/23) juga mendapatkan pengawasan dari Bawaslu Jateng.

Mulai pukul 15.00 WIB, ratusan buruh dari berbagai kota di Jateng menggelar aksinya di depan kantor Gubernur Jawa Tengah. Dalam aksinya, perwakilan dari berbagai serikat buruh bergantian menyampaikan orasinya.

Dalam aksi peringatan hari buruh ini, selain ratusan buruh juga terlihat beberapa anggota Bawaslu Jateng, yang mengawasi jalanya aksi. Bahkan, ketua Bawaslu Jateng, Arif Rahman nampak hadir di lokasi untuk melakukan pantauan aksi yang dilakukan para buruh tersebut.

Saat di wawancarai di lokasi, Arief menjelaskan bahwa pengawasan yang dilakukan untuk menindak lanjuti surat edaran yang telah diterbitkan oleh Bawaslu RI, sebagai upaya pencegahan terkait peserta pemilu yang menjadi bagian dari elemen buruh.

“Ya kita ketahui, bahwa salah satu peserta pemilu yang bersangkutan menjadi bagian elemen buruh, untuk itu kita lakukan pengawasan ini”, ujar Arif.Ditambahkan Arif, bahwa pihaknya juga telah memberikan himbauan dan peringatan agar Partai Buruh tidak melanggar aturan kontestasi Pemilu 2024 dengan melakukan kampanye saat aksi demo berlangsung.

“Meskipun hari ini tidak kita temukan pelanggaran dari aksi yang dilaksanakan buruh di beberapa titik, namun kita tetap berikan himbauan terkait adanya potensi pelanggaran, terutama jika ada ajakan kemudian kampanye terkait pememnangan salah satu peserta pemilu”, imbuhnya.

Meskipun demikian, Bawaslu masih mentolelir adanya sosialisasi parpol dengan menunjukan atribut partai seperti bendera, banner, hingga kaos saat melaksanakan aksi demonstrasi.

Sementara itu, Aulia Hakim korlap aksi demo buruh mengatakan, bahwa buruh dalam aksi peringatan hari buruh internasional ini memiliki 6 tuntutan, yang salah satunya adalah desakan untuk dilakukanya pencabutan Omnibus Law Cipta Kerja.

“Menurut kami, tak semestinya buruh memperingati Hari Buruh dengan liburan, jalan-jalan atau bahkan bersenang-senang, karena sejatinya peringatan hari buruh itu ya kami gunakan untuk berjuang, khususnya untuk pencabutan UU Cipta Kerja Omnibus Law”, terangnya.

Ditambahkan Aulia, jika UU Cipta Kerja belum dibatalkan, buruh akan terus menggelar aksi, bahkan menurutnya aksi buruh yang digelar turun ke jalan ini menandakan bahwa buruh hingga saat ini belum sejahtera.

(FARABI-APL)

Scroll to Top