16 Ibu Hamil Meninggal di Bantul, Dinkes: Efek Kehamilan Disembunyikan

Bagikan:

AshefaNews, Bantul – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul menyebut hingga akhir tahun tercatat ada 16 kasus kematian ibu hamil dan melahirkan. Jumlah tersebut turun dibanding tahun 2021, penurunan itu akibat gencarnya pemantauan ibu hamil dan menurunnya kasus COVID-19.

“Sampai saat ini baru 16 kasus (kematian ibu hamil dan saat melahirkan) dan dua dua diantaranya berhubungan dengan COVID-19,” kata Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Bantul Siti Marlina saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (28/12/2022).

Dari 16 kasus itu, Siti menyebut ada yang karena kehamilannya disembunyikan. Secara rinci, yang bersangkutan tidak mau memeriksakan kehamilannya dan memberitahukan kepada keluarganya.

“Ada satu pasien yang meninggal dunia karena selama kehamilan tidak memberitahukan kepada keluarganya, tidak memeriksakan kehamilannya. Sehingga produk kehamilannya buruk dan terjadi kelahiran prematur, gizi ibu juga buruk dan itu yang menyebabkan angka kesakitan ibu hamil tinggi,” ujarnya.

Siti mengatakan temuan kasus kematian ibu hamil ini merata di seluruh wilayah di Bantul. Jumlahnya di kisaran 1-2 kasus per wilayah tingkat kecamatan atau Kapanewon.  

“Paling tinggi tidak ada, tapi ada beberapa Kapanewon yang ada AKInya ada 2, seperti di Kapanewon Srandakan, Bantul,” ucapnya.

Meski begitu, Siti menyebut bahwa jumlah kematian ibu hamil dan melahirkan di Bantul ini cenderung menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 44 kasus. Tigginya kasus pada tahun 2021 karena faktor COVID-19.

“Ada 44 kasus di tahun 2021 dan 28 diantaranya karena COVID-19. Jadi sebagian besar karena COVID-19 dan lainnya karena banyak komplikasi pendarahan hingga kejang. Sehingga dibanding 2021 untuk kasus tahun ini turunnya banyak,” katanya.

Berkaca dengan kejadian tersebut, Dinkes telah melakukan berbagai upaya, seperti program nasional kelas ibu hingga USG. Pasalnya saat ini 27 Puskesmas Bantul sudah bisa melakukan USG, sedangkan pemeriksaan USG wajib bagi ibu hamil mulai di trimester satu dan trimester 3.

“Kemudian pemeriksaan ibu hamil minimal 6 kali, satu kali di trimester satu di awal kehamilan dan dua kali di 3 bulan berikutnya, dan 3 kali di 3 bulan terakhir. Kita juga punya manual rujukan, untuk merujuk ibu hamil yang harus dirujuk menyesuaikan penyakit penyertanya,” katanya.

“Setiap minggu juga ada diskusi dengan spesialis kandungan, penyakit dalam, jantung, mata. Jadi dari Puskesmas memaparkan kasus-kasus yang berisiko dan kita bahan setiap Rabu pukul 13.00 WIB,” lanjut Siti.

Selain itu, Dinkes memaksimalkan kader skrikandi untuk memantau ibu hamil. Sedangkan pemantauan dari masyarakat juga melibatkan lintas sektor, seperti Panewu, Lurah ikut memantau ibu hamil melalui kunjungan ke rumah-rumah, khususnya bagi ibu hamil yang memiliki penyakit penyerta.

(RM – JR)

Scroll to Top