Rukun Jual Beli dalam Islam Beserta Hikmahnya

Bagikan:

AshefaNews – Jual beli dalam bisnis rasanya sudah tidak asing bagi khalayak ramai. Namun tidak semua memiliki perhatian lebih terhadap rukun jual beli dalam Islam. 

Dalam al-Qur’an dan hadis yang menjadi sumber hukum Islam, tidak sedikit pengaturan bisnis yang benar. Sehingga bukan hanya penjual saja yang merasa diuntungkan, tetapi juga untuk pembeli.

Menurut Imam Taqiyuddin dalam kitab Kifayatul al-Akhyar, jual beli ialah saling tukar harta, saling menerima, dapat dikelola (tasharruf) dengan ijab qobul, dengan cara yang sesuai syara. Sehingga pada jual beli ini tidak boleh ada yang dirugikan, baik itu pihak penjual maupun pihak pembeli.

Adapun dasar hukum jual beli dalam al-Qur’an terdapat pada Qs An-Nisa ayat 29.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah SWT adalah Maha Penyayang kepadamu. (Qs An-Nisa: 29)

Diperjelas pula dalam Qs Al-Baqarah 275:

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰا۟ ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Qs Al-Baqarah: 275)

Berdasarkan ayat ini, maka dapat diambil pemahaman bahwa Allah SWT telah menghalalkan jual beli untuk hamba-Nya dengan sebaik mungkin, dan melarang praktik jual beli yang mengandung riba.

Nah agar kita bisa terhindar dari riba yang Allah SWT haramkan, maka kita perlu mengetahui apa saja rukun ‎jual beli dalam Islam. Berikut penjelasannya:‎

1. Adanya orang yang berakad atau pihak penjual dan pembeli

Orang yang berakad disebut juga aqid, yakni orang yang melakukan akad jual beli, sebab dalam jual beli tidak mungkin terjadi tanpa adanya orang yang melakukannya. Adapun syarat bagi aqid ini yaitu, beragama Islam, berakal, tanpa paksaan, dan baligh.

Adapun pada prosesnya ketika jual beli, maka kedua pihak ini harus berkomunikasi dengan baik dan tidak mendzalimi salah satunya. Sebagaimana Rosulullah SAW pernah bersabda, “Penjual dan pembeli, masing-masing mempunyai hak atau kesempatan berfikir sebelum berpisah mengenai jadi atau tidaknya jual beli.”

Islam menentukan hak dan kewajiban antara penjual dan pembeli untuk menghindari kerugian salah satu pihak. Maka dari iru jual beli harus dilakukan dengan kejujuran, tidak ada penipuan, paksaan, kekeliruan dan hal lain yang dapat mengakibatkan persengketaan dan kekecewaan atau alasan penyesalan bagi kedua pihak. 

Sebagaimana Allah SWT berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَٱكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُب بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِٱلْعَدْلِ ۚ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (Qs Al-Baqarah: 282)

2. Adanya ma’kud ‘alaih atau objek

Agar jual beli menjadi sah, maka harus ada barang yang menjadi objek jual beli. Adapun barang yang dijadikan objek jual beli ini harus memenuhi syarat diantaranya: pertama, barangnya bersih bukan yang tergolong barang yang diharamkan.

Dari Jabir Ibn Abdillah, bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda pada tahun kemenangan Makkah: “Sesungguhnya Allah SWT telah melarang (mengharamkan) jual-beli arak, bangkai, babi dan patung. Llalu seseorang bertanya, “Bagaimana dengan lemak bangkainya, karena dipergunakan untuk mengecat kayu dan minyaknya untuk lampu penerangan? Kemudian Rasulullah SAW menjawab “Mudah-mudahan Allah SWT melaknat orang-orang yahudi karena sesungguhnya Allah SWT telah mengharamkan lemak bangkai pada mereka, tetapi menjadikannya, menjualnya serta memakannya (hasilnya). (Muslim: 689)

Kedua, barang dapat dimanfaatkan bukan barang rusak.

Ketiga, barang harus milik sendiri, atau jika milik orang lain maka harus mendapat izin dari pemilik sah barang tersebut.

Keempat, penjual dan pembeli harus mengetahui barang yang diperjual belikan dengan jelas, baik itu zatnya, bentuknya, sifatnya dan harganya.

Namun pada zaman teknologi saat ini, apabila tidak bisa melihat secara langsung maka penjual harus menjelaskan secara rinci baik itu secara visual dengan video atau secara tulisan dengan keterangan yang sejelas-jelasnya tanpa menutupi apapun.

Kelima, barang yang diperjual belikan harus berada dalam kuasa penjual, untuk menghindari kedzaliman dalam jual beli.

3. Ada akad atau lafal

Adapun dalam akad bisa ditempuh dengan beberapa cara, yakni dengan cara tulisan, cara isyarat, cara ta’ahi yaitu saling memberi, dan cara lisan al-hal. Dengan demikian akad ini ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli. Dalam jual beli tidak dikatakan sah sebelum adanya ijab dan qobul, sebab ijab qobul menunjukan kerelaan (keridhaan).

Akad sendiri menurut Prof Hasbi Ash-Shiddiqy secara bahasa ialah al Rabt atau mengikat, yakni mengumpulkan dua tepi tali dan mengikat salah satunya dengan yang lain, sehingga bersambung lalu keduanya menjadi sepotong benda. 

Dalam arti lain akad ini merupakan perkataan antara dua orang atau lebih yang menjadi penyebab sahnya suatu jual beli.

4. Ada nilai tukar pengganti barang yaitu sesuatu yang memenuhi tiga syarat berikut; bisa menyimpan nilai, bisa menilai atau menghargakan suatu barang dan bisa dijadikan alat tukar.

Adapun sebab jual beli apabila ditinjau dari segi benda, sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Taqiyuddin, jual beli terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu jual beli barang yang kelihatan, jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam janji dan jual beli benda yang tidak ada.

Jual beli yang terlihat maksudnya ialah pada saat akad barangnya ada diantara penjual dan pembeli, sehingga terlihat oleh mereka saat itu juga.

Adapun jual beli yang hanya disebutkan sifatnya, seperti yang berlaku saat ini dalam jual beli online. Sedangkan jual beli barang yang belum ada atau sifatnya belum terlihar seperti membeli kacang dalam tanah, membeli ikan dalam kolam yang belum jelas, jual beli buah mangga dari pohonnya yang belum terhitung, ini dalam hukum Islam tidak boleh. Kecuali bagi orang yang mempunyai keahlian dalam menaksir maka diperbolehkan.

Wallahu a’lam bishawab

(GE – DIN)

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top