Faktor Internal Perusak Iman

Bagikan:

AshefaNewsFaktor Internal Perusak Iman, Iman seorang mukmin bisa naik dan bisa pula turun. Ada beberapa hal yang bisa merusak keimanan seseorang, baik yang menyebabkan berkurang atau bahkan membatalkan iman. Berikut akan dijelaskan beberapa faktor internal yang dapat merusak iman.

Faktor Pertama: Kebodohan

Faktor internal yang pertama adalah al-jahl yaitu bodoh karena tidak berilmu. Faktor internal paling utama yang bisa merusak iman seseorang ialah kebodohan. Lawan dari bodoh adalah ilmu. Oleh karena itu, para Nabi menjelaskan kepada kaumnya bahwa sebab mereka terjerumus dalam perbuatan syirik dan maksiat adalah karena kebodohan. Allah Ta’ala berfirman dalam Quran surah Al-A’raf: 138, tentang kaum Nabi Musa:

Bani lsrail berkata, ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh (tidak mengetahui)’”.

Allah Ta’ala berfirman tentang kaum Nabi Luth, yang artinya:

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)? Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang bodoh (tidak mengetahui) (akibat perbuatanmu)’” (QS. An-Naml: 54-55).

Allah Ta’ala berfirman dalam Quran surah Az-Zumar: 64, tentang Nabi Ibrahim ‘Alaihis salam:

Katakanlah, ‘Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang bodoh?’

Kebodohan adalah sumber utama dari berbagai macam penyakit dan musibah. Ketika seseorang bodoh tentang hal-hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, maka akan muncul dari dalam dirinya perbuatan maksiat dan menyimpang dari agama Allah.

Faktor Kedua: Lalai

Faktor internal yang kedua yaitu al-ghafla yang berarti lalai. Apabila seorang hamba lalai tentang tujuan diciptakannya manusia, maka imannya pun akan melemah. Allah tidak menyukai, bahkan mencela serta memperingatkan dengan keras kepada orang-orang yang lalai. Allah menerangkan dalam Qur’an bahwasanya lalai adalah sifat orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lalai/ lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami” (QS. Yunus: 92).

Faktor Ketiga: Berpaling dari Kebenaran

Faktor internal yang ketiga adalah al-a’radh yang artinya berpaling. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa” (QS. As-Sajdah: 22).

Berpaling dari segala perintah Allah adalah sifat orang-orang yang ingkar, dan hal itu sangat dimurkai oleh Allah. Tidak selayaknya seorang hamba ketika mendengar kalamullah atau mendengar hadis nabi berpaling darinya. Kewajibannya adalah menerima, mentaati, dan mengikutinya.

Faktor Keempat: Lupa

Faktor internal yang keempat adalah lupa. Jika seseorang lupa tentang apa yang diperintahkan kepadanya, maka imannya pun akan menjadi lemah. Ada dua bentuk sifat lupa, yaitu lupa yang diampuni dan lupa yang tidak diampuni.

Pertama, lupa yang diampuni/ dimaafkan, yaitu lupa yang tidak disengaja. Contoh bentuk ini adalah sebagaimana Allah berfirman:

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Jawaban dari ayat diatas sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis bahwa Allah berfirman:

Sudah Aku lakukan (kabulkan).“ (HR. Muslim)

Kedua, lupa yang tidak akan diampuni, yaitu lupa yang disebabkan karena kesengajaan. Contoh dari bentuk lupa yang tidak diampuni ini adalah seperti apa yang telah Allah Ta’ala firmankan:

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.“ (QS. Al-Hasyr: 19).

Inilah yang akan merusak keimanan seseorang, yaitu dengan sengaja melupakan Allah Ta’ala dan berpaling dari-Nya.

Faktor Kelima: Perbuatan Maksiat dan Dosa

Sebagaimana iman akan bertambah dengan ketaatan, maka iman pun akan berkurang dengan kemaksiatan. Nabi telah menjelaskan dengan penjelasan yang gamblang secara global maupun terperinci, ada dosa besar dan dosa kecil. Setiap hamba harus mengetahui dampak maksiat serta bahaya dan kerusakannya sehingga dia bisa menghindarinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-ran” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.“ (HR. Tirmidzi)

 

Faktor Keenam: Nafsu yang Mengajak kepada Keburukan

Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.“ (QS. Yusuf: 53)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajarkan doa kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu agar membacanya setiap pagi dan sore serta sebelum tidur. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Ucapkanlah, “Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah, kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, setan, dan bala tentaranya, serta godaan untuk berbuat syirik pada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan di pagi dan sore serta ketika hendak tidur untuk berlindung dari keburukan nafsu. Karena nafsu yang ada pada jiwa manusia secara naluri akan berjalan dalam segala hal yang menyelisihi dan menyimpang, serta memerintahkan untuk melakukan kejelekan, kerusakan, dan perbuatan maksiat, mengajak kepada perkara yang membinasakan.

(GE – HFD)

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top