Fakta Ilmiah Larangan Keluar Rumah Saat Maghrib

Bagikan:

AshefaNews – Saat memasuki waktu maghrib, orangtua dahulu melarang kita untuk berada di luar rumah. Mereka percaya jika diwaktu itu banyak setan dan jin yang berkeliaran. Sehingga larangan ini diberlakukan untuk anak-anak sampai mereka yang sudah dewasa.

Larangan ini dianggap mitos, sebab dikaitkan dengan hal gaib seperti khawatir akan diculik jin atau menjadi incaran setan. Sebab tidak dipungkiri, larangan keluar rumah saat maghrib ini dijadikan adalan bagi para orangtua untuk menyuruh anaknya berhenti bermain.

Namun nyatanya, larangan ini disamping dianggap sebagai mitos ternyata memiliki pengaruh baik terhadap kebiasaan anak-anak juga masyarakat pada umumnya. Tanpa disadari larangan keluar rumah menjelang maghrib menjadi sarana pendidikan anak non formal dan dinilai berhasil dalam upaya untuk mengontrol anak. Larangan ini sudah tersebar luas dikalangan masyarakat. Sebab memang merupakan tradisi yang diturunkan dari zaman nenek moyang.

Tapi siapa sangka ternyata dalam suatu jurnal disampaikan jika larangan keluar rumah saat waktu maghrib ini memenuhi 3 fungsi, yakni fungsi sosial, fungsi religius, dan fungsi budaya. 

Larangan keluar rumah saat maghrib berdasarkan fungsi sosial yang dimaksud ialah sebagai alat kontrol masyarakat yang tercermin pada bentuk penghormatan saat pemeluk agama islam sedang melakukan ibadah shalat maghrib, sehingga dengan adanya larangan ini jalanan menjadi sepi dan orang-orang menghentikan aktivitas di luar rumah sejenak untuk meminimalisir kegiatan saat ada kegiatan ibadah.

Sedangkan larangan keluar rumah saat maghrib dilihat dari fungsi religius, sudah jelas jika diwaktu ini, menjelang shalat maghrib dilaksanakan. Sehingga semua bisa mempersiapkan untuk shalat maghrib dan meninggalkan dari segala kesibukan duniawi. Adapun larangan keluar rumah saat maghrib berdasarkan fungsi sosial budaya, dikarenakan sebab larangan ini terdapat dalam mitos cerita pewayangan yang memiliki filosofi juga dengan menerapkannya berarti sama dengan menjaga budaya yang telah berkembang di masyarakat.

Larangan keluar rumah saat maghrib juga ternyata ada dalam hadis Shahih Muslim yang menyatakan jika setan berkeliaran di waktu tersebut, sehingga dianjurkan untuk menutup pintu-pintu rumah sampai menutup bejana.

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ ، وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا ، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ 

“Telah menceritakan kepada kami Ishāq bin Mansūr telah mengabarkan kepada kami Rauh bin Ubādah telah mengabarkan kepada kami Ibn Juraij dia berkata, ‘telah mengabarkan kepadaku Ata bahwa dia mendengar Jābir bin Abdullāh ra. berkata, Rasulullah bersabda, “Apabila hari mulai malam atau malam telah tiba, maka tahanlah anak-anak kalian, karena saat itu setan berkeliaran, apabila malam telah berlalu sesaat maka lepaskanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumah kalian dan sebutlah nama Allah, karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup dan tutuplah tempat air minum kalian sambil menyebut nama Allah SWT dan tutup pula wadah-wadah kalian sambil menyebut nama Allah SWT walaupun hanya dengan sesuatu yang dapat menutupinya dan matikanlah lampu-lampu kalian.” (HR Muslim)

Dalam hadis riwayat Ahmad pun mengatakan hal yang senada. 

خَمِّرُوا الْآنِيَةَ وَأَوْكِئُوا الْأَسْقِيَةَ وَأَجِيفُوا الْبَابَ وَأَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ عِنْدَ الرُّقَادِ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ رُبَّمَا اجْتَرَّتْ الْفَتِيلَةَ فَأَحْرَقَتْ الْبَيْتَ ، وَأَكْفِتُوا صِبْيَانَكُمْ عِنْدَ الْمَسَاءِ فَإِنَّ لِلْجِنِّ انْتِشَارًا وَخَطْفَةً

“Tutuplah bejana-bejana dan tempat minum kalian. Serta matikanlah lampu-lampu ketika hendak tidur. Karena fuwaisiqoh (binatang kecil, seperti cicak, tokek, dll) terkadang menyenggol sumbu dan bisa membakar rumah. Dan tahanlah anak-anak kalian (di rumah) ketika sore hari karena jin bertebaran ketika itu dan terkadang menculiknya.” (HR Ahmad :14747)

أَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ بِاللَّيْلِ وَأَطْفِئُوا السُّرُجَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهِ بِعُودٍ

“Tutuplah pintu-pintu ketika malam, dan matikanlah lampu-lampu. Tutuplah bejana serta tempat makan dan minum, walaupun hanya engkau taruh sepotong kayu di atasnya.” (HR Ahmad :14597)

Larangan keluar rumah yang terdapat dalam hadis, menunjukan betapa Islam memperhatikan kedisiplinan sebagai pola asuh yang baik untuk diterapkan. Sebab memang pada hakikatnya pendidikan dalam Islam merupakan pendidikan yang penting untuk diterapkan untuk manusia sejak dini. 

Sebab pendidikan Islam bertujuan membentuk moral anak dengan kepribadian yang baik, disamping itu juga pendidikan Islam berfungsi sebagai pedoman dan control dalam kehidupan kita. 

Di sisi lain, anjuran ini menekankan kita agar sadar jika waktu maghrib memang bukanlah waktu untuk berkeliaran di luar rumah, karena waktu untuk beribadah kepada Allah SWT SWT yaitu pada waktu maghrib, agar bisa shalat tepat waktu sebab shalat maghrib sangatlah singkat.

Dalam buku berjudul the science of shalat karya Prof Dr Ir H Osly Rachman MS, dijelaskan bahwa ketika menjelang waktu maghrib, alam akan berubah menjadi spektrum cahaya yang berbeda. Cahaya sendiri merupakan gelombang elektromagnetis (EM) yang memiliki spectrum warna yang berbeda satu sama lain. Energi dari setiap warna dalam spectrum itu akan mempengaruhi frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda.

Adapun menjelang waktu maghrib, warna spectrum cahaya yang keluar ialah berwarna merah. Spektrum warna merah yang keluar pada waktu maghrib akan selaras dengan frekuensi jin dan iblis. 

Di waktu ini jin dan iblis sangat bertenaga karena memiliki resonasi bersamaan dengan warna alam. Banyaknya interfensi atau tumpang tindih dua atau bahkan ebih gelombang yang berfrekuensi sama akan membuat penglihatan terkadang kurang tajam karena adanya fatamorgana.

Bahkan dalam Islam, pada waktu maghrib dijelaskan bahwa setan bersamaan dengan datangnya gelap akan menyebar mencari tempat yang akan mereka tinggali. Sebagian setan takut pada kejahatan setan lainnya, sehingga setan harus memiliki sesuatu yang dijadikannya sebagai tempat berlindung dan mencari tempat aman.

Hal ini membuat mereka bergerak dengan cepat melebihi kecepatan manusia dengan berlipat. Beberapa ada yang berlindung dalam wadah kosong, rumah kosong, dan berlindung pada sekelompok manusia yang sedang duduk duduk. Maka tidak heran jika setan pun akan mengganggu anak kecil untuk dijadikan sebagai tempat berlindung.

Sebaiknya diantara waktu maghrib dan isya diisi oleh aktivitas ibadah lainnya. Sebagaimana Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan bahwa seorang muslim apabila memungkinkan maka hendaknya berniat dan melakukan itikaf di masjid mulai dari bada maghrib hingga waktu isya. Dianjurkan pula mengisinya dengan shalat sunnah tawwabin, yang mana ini termasuk ke dalam shalat sunnah taubat.

Sehingga dengan adanya larangan keluar rumah di waktu maghrib, bisa kita ambil faedahnya. Meski penerapannya masih dikaitkan dengan mitos, namun nyatanya agama pun menganjurkan demikian. Maka alangkah baiknya selain daripada menghentikan aktivitas untuk istirahat sejenak, pun waktu istirahatnya dipergunakan untuk melakukan ibadah-ibadah lainnya. 

Wallahu a’lam bishawab.

(GE – DIN)

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top