SCROLL UNTUK MELANJUTKAN BACA

Dampak Buruk Harta Haram

Bagikan:

AshefaNews – Dampak buruk harta haram akan mempengaruhi pribadi pemiliknya secara khusus, bahkan secara umum umat manusia pun ikut terkena dampaknya.

Adapun yang dimaksud harta yang haram adalah yang didapatkan dari jalan/cara/pekerjaan yang dilarang oleh Islam, seperti merampok, korupsi, manipulasi dan lain sebagainya. 

Bahkan memakan harta haram ini merupakan ciri khas umat Yahudi yang diabadikan Allah SWT SWT dalam firman-Nya:

وَتَرٰى كَثِيۡرًا مِّنۡهُمۡ يُسَارِعُوۡنَ فِى الۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ وَاَكۡلِهِمُ السُّحۡتَ‌ ؕ لَبِئۡسَ مَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ

Wa taraa kasiiram minhum yusaari’uuna fil ismi wal’udwaani wa aklihimus suht; labi’sa maa kaanuu ya’maluun

“Dan kamu akan melihat banyak di antara mereka (orang Yahudi) berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.” (Qs Al-Maidah: 62)

Islam tidak melarang umatnya untuk mengumpulkan harta jika didasari karena kebutuhan hidup, bukan untuk menumpukannya sebagai simpanan yang tidak berguna. Namun patut diperhatikan pula, kaidah tentang kehalalan dan keharaman harta, baik secara dzatnya, maupun proses dalam mendapatkannya. Sebab halal dan haramnya harta akan mempengaruhi kepada pemiliknya.

Bahkan harta haram menjadi penyebab kehinaan, kemunduran serta kenistaan umat Islam saat ini, sebagaimana dalam hadis riwayat Abu Dawud yang dinyatakan shahih Syaikh al-Albani, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian berjual beli dengan cara inah (salah satu bentuk transaksi ribawi-pent), sibuk dengan ekor-ekor sapi (harta kekayaan-pent), ridha (sibuk-pent) dengan bercocok tanam, dan meninggalkan jihad, niscaya Allah SWT akan menjadikan kalian dikuasai oleh kehinaan. Tidak akan diangkat kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada syariat agama kalian.” 

Tidak sampai di sana, akibat dari harta haram juga bisa menimbulkan banyaknya musibah dan bencana. Seperti dalam hadis riwayat Hakim, Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda, 

إِذَا ظَهَرَ الزِّناَ وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim).

Lebih mengerikan lagi dampak buruk harta haram bagi siapapun yang memakannya, maka badannya halal disentuh api neraka. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah memberikan nasibat kepada Ka’ab bin ujroh yang redaksinya, 

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi, no. 614. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Hal ini dikarenakan dengan seseorang berani memakan harta haram itu sama seperti mendurhakai Allah SWT SWT.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَهَذَا هُوَ عَبْدُ هَذِهِ الْأُمُورِ فَلَوْ طَلَبَهَا مِنْ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ إذَا أَعْطَاهُ إيَّاهَا رَضِيَ ؛ وَإِذَا مَنَعَهُ إيَّاهَا سَخِطَ وَإِنَّمَا عَبْدُ اللَّهِ مَنْ يُرْضِيهِ مَا يُرْضِي اللَّهَ ؛ وَيُسْخِطُهُ مَا يُسْخِطُ اللَّهَ ؛ وَيُحِبُّ مَا أَحَبَّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَيُبْغِضُ مَا أَبْغَضَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Inilah yang namanya budak harta-harta tadi. Jika ia memintanya dari Allah SWT dan Allah SWT memberinya, ia pun rida. Namun ketika Allah SWT tidak memberinya, ia pun murka. ‘Abdullah (hamba Allah) adalah orang yang rida terhadap apa yang Allah SWT ridai, dan ia murka terhadap apa yang Allah SWT murkai, cinta terhadap apa yang Allah SWT dan Rasul-nya cintai serta benci terhadap apa yang Allah SWT dan Rasul-Nya benci.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 10:190)

Adapun dampak buruk harta haram yang akan mempengaruhi individu secara khusus ialah:

1. Doa sulit dikabulkan

Allah SWT SWT memerintahkan agar orang-orang yang beriman hanya memakan harta yang halal seperti dalam Qs Al-Baqarah ayat 172:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Yā ayyuhallażīna āmanụ kulụ min ṭayyibāti mā razaqnākum wasykurụ lillāhi ing kuntum iyyāhu ta’budụn

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”

Begitu pula Rasulullah SAW menegaskan jika Allah SWT hanya akan menerima yang baik, sebagaimana Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَه

“Sesungguhnya Allah SWT Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah SWT Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’

2. Jiwa akan selalu gelisah

Seorang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta sudah barang tentu dia termasuk orang yang cinta kepada dunia (hubuddunya), banyak menuntut, lemah iman, senantiasa berharap kepada makhluk, kurang bersyukur dan hal ini pula yang membuatnya menjadi pelaku dosa. Ciri-ciri tersebut termasuk ke dalam faktor yang menyebabkan hati menjadi gelisah dan salah satu dampak buruk harta haram.

3. Membuat malas beramal shalih

Salah satu penyebab malas dalam berbuat amal shalih ternyata bukan karena sekedar merasa sibuk saja, namun harta haram pun bisa mempengaruhi.

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thayyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun: 51). Yang dimaksud dengan makan yang thayyib di sini adalah makan yang halal sebagaimana disebutkan oleh Sa’id bin Jubair dan Adh-Dhahak. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 5:462.

Dalam tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, bahwa Allah SWT ta’ala dalam Qs Al-Mu’minun ayat 51, memerintahkan para rasul untuk memakan makanan yang halal dan beramal shaleh. Penyandingan dua perintah ini mengisyaratkan jika makanan halal adalah salah satu faktor yang menyemangati dalam melakukan amal shaleh.

Dampak buruk harta haram ini sangat merugikan bagi diri sendiri maupun umat islam umumnya. Sehingga sudah seharusnya kita memohon perlindungan kepada Allah SWT SWT agar dijauhkan dari harta haram dan dicukupkan dengan harta halal.

Seperti pada doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW pada hadis berikut ini:

اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah SWT cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi, no. 3563; Ahmad, 1:153; dan Al-Hakim, 1:538. Hadits ini dinilai hasan menurut At-Tirmidzi. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy menyetujui hasannya hadits ini sebagaimana dalam Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 2:509-510).

(GE –  DIN)

Scroll to Top