Pengertian Aqidah, Contoh dan Tujuannya Dalam Hidup

Bagikan:

AshefaNews – Salah satu landasan penting dalam ajaran Islam adalah Aqidah, yaitu ikatan atau keyakinan. Sementara itu, pengertian aqidah secara terminologi adalah perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa sebagai ketetapan yang teguh dan kokoh kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak tercampuri sedikitpun oleh keraguan dan kebimbangan.

Sebagai bentuk komitmen awal kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seorang muslim wajib mempunyai pondasi yang kokoh sebelum melangkah kepada syariat Islam. Syariat Islam itu sendiri tidak dapat berjalan dengan baik apabila pondasi seorang muslim lemah. Pondasi inilah yang disebut aqidah

Ibarat tali kekang, aqidah mengendalikan seorang muslim agar selalu berjalan diatas syariat Islam. Ajaran aqidah ini merupakan persoalan mendasar yang harus diyakini oleh seorang muslim sebelum ajaran-ajaran yang lain.

Aqidah dibagi menjadi dua macam, yaitu aqidah islamiyah dan aqidah dholalah (sesat). Aqidah islamiyah adalah keyakinan yang sesuai syariat (Alquran dan hadits) yang diyakini oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau. Sedangkan aqidah dholalah ialah keyakinan yang menyimpang dari Alquran dan As-Sunnah dan diyakini oleh para ahlul bid’ah dan pengikut hawa nafsu.

Jika dari awal seseorang sudah salah dalam memahami aqidah Islam atau meyakini sesuatu yang tidak diperintahkan, maka akan muncul bid’ah (perkara baru dalam hal ibadah yang diada-adakan, yang bukan bagian dari agama, dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat) yang akan menyesatkan umat.

Ada beberapa penyebab kesalahan dalam aqidah Islam, diantaranya:

a.  Kurangnya ilmu tentang aqidah yang benar.

b.  Fanatik dan berpegang teguh terhadap sesuatu yang diyakini orang tua atau nenek moyang walaupun salah.

c.  Taqlid buta (asal ikut-ikutan, tanpa mau mempelajari sumber ilmu tersebut) dengan menjadikan apa yang diyakini seseorang sebagai aqidahnya tanpa tahu dalil (aturan) dan kebenarannya.

d.  Berlebih-lebihan dalam hal mengangkat para para wali/ habib/ orang sholeh ke tempat atau derajat yang bukan seharusnya (ghuluw), karena dianggap bahwa hal tersebut dapat memberi manfaat, dan sebagainya. Padahal yang dapat memberi manfaat dan mudhorot kepada manusia hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala.

e.  Lalai dari merenungi ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala.

f.   Tidak adanya nasihat-nasihat agama yang baik didalam rumah.

g.  Sangat sedikit sekali yang menyampaikan pendidikan dasar dalam dunia Islam tentang kewajiban kita sebagai hamba Allah.

Setelah kita mengerti segala konsekuensi dari pemahaman aqidah yang salah/ sesat, maka yang wajib kita lakukan ialah:

–   Mempelajari dan menerima aqidah yang benar sesuai dengan syariat (kembali kepada Alquran dan sunnah Rasulullah ﷺ), serta memberikan alokasi waktu yang cukup berupa program atau kurikulum pembelajaran tentang dasar-dasar keislaman.

–   Menegakkan dakwah orang-orang yang sholeh yang memiliki aqidah yang benar, serta menolak kesesatan dalam masalah aqidah.

(Ge-Hfd)

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top