SCROLL UNTUK MELANJUTKAN BACA

4 Adab Berbicara Dalam Islam

Bagikan:

AshefaNews – Kali ini kita akan membahas adab berbicara dalam islam, yuk simak seperti apa!

slam telah memberikan pedoman hidup yang baik dan jelas. Termasuk dalam konteks mualamah, di mana terdapat adab-adab yang harus diperhatikan. Diantaranya ialah adab berbicara dalam Islam.

Adab merupakan perilaku yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadis. Dalam penerapan adab dibutuhkan niat yang baik dan ikhlas karena Allah SWT. Adab sendiri hanya memiliki satu sisi penilaian, yakni bernilai baik dan maslahat bagi pelaku ataupun orang lain dalam kaidah Islam.

Adakalanya adab berasal dari orang yang memiliki olmu atau kita kenal dengan sebutan ulama, namun tentunya ulama yang benar akan mengembalikan semuanya pada al-Qur’an dan hadis dalam menghiasi adan dan perilaku kehidupan sehari-hari.

Dalam jurnal komunikasi Islam sendiri, terdapat beberapa adab berbicara, diantaranya ialah jujur dalam berbicara, berbicara baik atau diam, tidak gibah, melihat wajah lawan bicara, antusias, tidak memotong pembicaraan, dan tidak berdebat.

Lalu bagaimana adab berbicara dalam Islam yang sebenarnya? 

Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai adab berbicara dalam Islam:

1. Bicara dalam hal kebaikan dan menghindari kemadharatan.

Diantara tanda baiknya seorang muslim ialah tidak membicarakan hal yang tidak berguna.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Hal ini dilakukan agar menghindarkan kita dari perkataan yang bisa saja menyakiti orang lain, baik itu berkata kasar ataupun candaan yang melampaui batas.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).

Ditekankan pula oleh hadis riwayat Ahmad, di mana Syaikh Syu’aib al-Arnauth mengatakan jika hadis ini hasan dengan adanya syawahid (penguat), dalam hadis ini Al Husain bin ‘Ali disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat”

Terlebih lagi jika itu perkataan yang kasar atau jorok, Al Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunnahnya, dimana Rasulullah SAW bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu’min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar.” (HR At Tirmidzi: 2002, hadīts ini hasan shahīh)

Kebiasaan berbicara dengan teman, tidak sdikit yang pada akhirnya terjebak pada gibah atau berburuk sangka kepada sesama saudaranya. 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Hujurat: 12)

Dalam Ma’alimut Tanziil, tafsir at-Tafsir karya Syeikh Ibrahim Al-Qathan, bahwa Abu Muhammd al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi menyatakan ayat ini diturunkan karena ada dua orang lelaki yang menggunjing kawan mereka. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

 رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk ucapan yang paling dusta, dan janganlah kalian saling mendiamkan, saling mencari kejelekan, saling menipu dalam jual beli, saling mendengki, saling memusuhi dan janganlah saling membelakangi, dan jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Selain daripada itu, kita pun diminta agar menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rencah orang yang berbicara.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

2. Bicara dengan suara yang dapat didengar

Hendaknya berbicara dengan suara yang bisa didengar sesuai dengan jumlah pendengar saat itu, tidak terlalu keras juga tidak terlalu pelan. Dianjurkan juga berbicara dengan bahasa yang dipahami semua orang dan tidak dibuat-buat atau di paksakan.

Sebagaimana Ibunda Aisyah mengatakan,

ُ قَالَتْ كَانَ كَلاَمُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَلاَمًا فَصْلاً يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ.

“Bahwasanya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu perkataan yang jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud 4839. Dinilai hasan oleh Al Albani dalam Shahih al Jaami’ no 4826) .

3. Menghindari perdebatan dan saling membantah. Sekalipun kamu berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَهُوَ بَاطِلٌ بُنِيَ لَهُ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ فِي وَسَطِهَا وَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ بُنِيَ لَهُ فِي أَعْلَاهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ حَسَنٌ

Artinya: Dari Anas bin Malik, ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan berbohong (dan berbohong pada waktu itu sesuatu yang tidak dibenarkan) maka akan dibangunkan untuknya rumah di sekitar surga, barangsiapa yang meninggalkan perdebatan (sedang dia orang yang berhak untuk berdebat) maka akan dibangunkan untuknya rumah di tengah surga, dan barangsiapa yang memperbagus akhlaknya maka akan dibangunkan rumah untuknya di bagian yang paling atas.”

4. Jangan bicara tergesa-gesa atau banyak bicara

Dalam kitan Raudhatul ‘Uqala, Ibnu Hibban berkata, 

إِنَّ الْعَاجِلَ لَا يَكَادُ يَلْحَقُ؛ كَمَا أَنَّ الرَّافِقَ لَا يَكَادُ يَسْبِقُ، وَالسَّاكِتُ لَا يَكَادُ يَنْدَمُ، وَمَنْ نَطَقَ لَا َيكَادُ يَسْلَمُ، وَإِنَّ العَجِلَ يَقُوْلُ قَبْلَ أَنْ يَعْلَمَ، وَيُجِيْبُ قَبْلَ أَنْ يَفْهَمَ، وَيَحْمَدُ قَبْلَ أَنْ يُجَرِّبَ، وَيَذُمُّ بَعْدَ مَا يَحْمَدُ، وَيَعْزِم قَبْلَ أَنْ يُفَكِّرَ، وَيَمْضِيْ قَبْلَ أَنْ يَعْزِمَ، وَالعَجِلُ تَصْحَبُهُ النَدَامَةُ، وَتَعْتَزِلُهُ السَّلَامَةُ، وَكَانَتِ الْعَرَبُ تَكْنِي اْلعَجَلَةَ أُمَّ النَّدَامَاتِ

Orang yang tergesa-gesa hampir-hampir tidak beberharapasil, sebagaimana orang yang perlahan-lahan hampir-hampir tidak bisa melampaui oleh orang lain.

Orang yang diam hampir-hampir tidak pernah menyesal, adapun orang yang berbicara hampir-hampir tidak selamat.

Orang yang tergesa-gesa dia berbicara sebelum berilmu, dan dia menjawab sebelum mengerti. Dia memuji orang sebelum dia mencoba, dan akhirnya dia mencela padahal sebelumnya dia memuji.

Dia bertekad melaksanakan sebelum dia berpikir, dan dia berjalan sebelum memiliki tekad. Orang yang tergesa-gesa pada umumnya disertai dengan penyelesaian dan dijauhi keselamatan. Orang-orang arab dahulu menggelari ketergesaan dengan ibunya penyesalan-penyesalan.

5. Menjadi pendengar yang baik dan tidak memotong pembicaraan orang lain

 Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah,

إذا جالست فكن على أن تسمع أحرص منك على أن تقول , و تعلم حسن الاستماع كما تتعلم حسن القول , و لا تقطع على أحد حديثه

“Apabila kamu sedang duduk bersama (dengan orang lain), kamu lebih bersemangat mendengar melebihi semangat kamu berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaimana kamu belajar menjadi pembicara yang baik. Janganlah engkau memotong pembicaraan orang lain.” (Al-Muntaqa) (Al-Muntaqa hal. 72)

Kita pun dianjurkan untuk menjadi pendengar yang baik bagi lawan bicara kita dan alangkah baiknya untuk tidak mendominasi pembicaraan. 

Wallahu a’alm bishawab

(GE – DIN)

Scroll to Top