SCROLL UNTUK MELANJUTKAN BACA

Mental ILLNESS dan Cara Mengatasinya

Bagikan:

AshefaNews – Perkembangan dunia yang melaju begitu cepat membuat pergerakan manusia pun mengalami percepatan juga. Sebagai manusia yang hidup di dalam sistem dengan aturan-aturan serta hukum yang berlaku, maka kita dituntut untuk bisa mengejar berbagai perubahan yang ada dalam sistem tersebut. Adapun salah satu perubahan yang kentara adalah maraknya penggunaan sosial media atau sosmed sebagai instrumen untuk memperluas koneksi antara satu society ke society yang lain. Hari-hari ini, kita tidak perlu pergi atau mengunjungi secara langsung untuk tahu bentuk Menara Eiffel itu seperti apa. Sosial media dengan kecanggihan teknologinya mempermudah kita untuk melihat dan terhubung dengan Menara Eiffel dalam waktu yang lebih singkat, mudah, dan tidak mengeluarkan banyak budget tentunya.

Konten di dalam sosmed pun menjadi tuntutan bagi kita untuk keeping up agar merasa tidak tertinggal dari majunya zaman. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan untuk memenuhi konten dalam sosmed ataupun media canggih lainnya membuat kita hanya terpaku untuk update di dunia maya tanpa memperhatikan kondisi lingkungan kita sendiri. Hal inilah yang kemudian menimbulkan tingkat apatisme cenderung lebih tinggi antar manusia yang saling berdekatan. Sehingga, tidak bisa dipungkiri koneksi antar manusia secara langsung mengalami penurunan seiring meningkatnya hubungan manusia secara tidak langsung atau di dunia maya. Tuntutan dunia maya melalui sosmed menimbulkan momok baru bagi generasi hari ini, yakni timbulnya penyakit mental atau gangguan mental yang disebut dengan mental illness. 

Apa itu Mental illness?

Mental illness adalah gangguan yang terjadi atas kesehatan pikiran, suasana hati, tingkah laku, dan/atau kombinasi dari ketiganya. Mental illness ini kemudian bisa menimpa siapa saja, baik mereka yang berusia muda, paruh baya, maupun orang tua. Kondisi ini belum bisa diprediksi apa yang menjadi penyebab pastinya, namun yang pasti kondisi ini bisa terjadi dalam waktu yang cenderung singkat dan juga lama atau jangka panjang. Meskipun sosmed dan kecanggihan teknologi diduga memiliki andil atas maraknya mental illness di masyarakat kita, tetapi sesungguhnya masih belum bisa benar-benar dipastikan apa hubungan dari tuntutan hidup atas kemajuan zaman dengan terganggunya kecemasan pikiran dan suasana hati.

Faktor-faktor yang memicu adanya mental illness mungkin memang belum benar-benar bisa diprediksi, karena banyak penyebab yang bisa memicu terjadinya gangguan mental ini. Namun, yang pasti mental illness merupakan penyakit yang bisa dirawat dan diterapi hingga bisa mencapai proses penyembuhan yang diharapkan. Karena, seperti yang kita ketahui bahwa gangguan mental yang dialami seseorang dalam jangka panjang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Hubungan sosial kemasyarakatan, keluarga, hingga dengan rekan kerja pasti akan terdampak ketika seseorang tengah mengalami fase down dalam hidupnya. Kehidupan yang terganggu karena mental illness kemudian harus diberikan perawatan agar supaya bisa sembuh dan kembali hidup normal. 

Gejala Mental illness

Sebelum membahas terapi perawatannya, kita perlu mengetahui dulu apa saja gejala yang timbul ketika seseorang mengalami gangguan mental. Banyak gejala yang menjadi indikator bahwa seseorang tersebut adalah penderita mental illness, yakni: berkurangnya kemampuan berkonsentrasi, suasana hati yang tidak stabil atau bisa dibilang mengalami mood yang berubah-ubah, susah tidur atau insomnia, tidak bergairah dalam menjalani aktivitas sehari-hari, susah untuk berbaur dengan lingkungan karena merasa tidak fit in di kehidupan sosial, merasa ingin marah secara tiba-tiba tanpa mengetahui penyebabnya, memiliki ketakutan yang berlebihan akan sesuatu yang belum terjadi, tidak banyak memiliki tenaga tanpa melakukan kegiatan berat, dan puncaknya adalah memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. 

Gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas merupakan hal yg umum dirasakan oleh mereka dengan gangguan mental. Mereka dengan gangguan seperti itu akan sulit menjalani kehidupan normal seperti sebelum menderita gangguan mental. Terlebih lagi, gejala yang muncul tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi mental saja, namun juga fisik, karena energi dari penderita semakin melemah yang kemudian membuat fisik atau tubuh juga lebih mudah terserang penyakit. Untuk itulah, perlu dilakukan perawatan melalui terapi atau bahkan perawatan intensif dengan tenaga profesional bagi mereka yang mengalami gejala yang sudah parah. 

Cara Mengatasi Mental illness

Terapi perawatan yang bisa dilakukan apa saja sih? Terapi perawatannya terdiri dari tiga macam, yaitu terapi perilaku kognitif, interpersonal, dan perilaku dialektis. Sedangkan jenis perawatannya dikategorikan menjadi dua, yaitu perawatan jalan atau mandiri di rumah dan perawatan di rumah sakit oleh profesional. Perawatan yang dilakukan di rumah tentu tidak terlepas dari pantauan tenaga profesional atau psikiater, karena timeline terapi sudah ditentukan oleh psikiater masing-masing pasien. Adapun cara-cara terapi yang dilakukan di rumah dalam merawat pasien gangguan mental adalah dengan cara mengaplikasikan gaya hidup sehat yang mana ini termasuk di terapi perilaku kognitif. Dalam proses hidup sehat, pasien harus menghindari minuman dan makanan yang mampu menimbulkan dampak negatif terhadap tubuh, seperti alkohol dan junk food. Kemudian, aktif berolahraga untuk mengeluarkan hormon endorfin dari dalam tubuh. Keluarnya hormon endorfin mampu merangsang adanya energi positif yang kemudian bisa membuat pasien gangguan mental lebih bisa bertindak dan berpikir ke arah yang positif pula.

Selanjutnya adalah bergabung menjadi bagian dari support group, terapi ini termasuk ke dalam terapi interpersonal. Support group bisa membantu untuk boosting rasa kepercayaan diri yang sebelumnya hilang dan membuat pasien mental illness kurang bisa mengekspresikan keinginan serta passion-nya. Support group yang memiliki anggota dengan gejala yang sama akan berusaha saling menguatkan satu sama lain, sehingga tidak ada yang akan merasa kesepian dan harus menghadapi semua hal sendirian. Energi positif dari sesama anggota inilah yang akan memicu motivasi untuk sembuh dan semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 

Dalam menjalani perawatan secara mandiri, pasien mental illness tidak diperbolehkan melewatkan sesi perawatan dengan profesional. Karena, bagaimanapun juga perawatan di rumah berada dalam pantauan, dan pasti akan ada konsultasi rutin dengan psikiater yang menjadi konsultan kejiwaan, terapi ini termasuk ke dalam terapi perilaku dialektis. Begitu pula dengan obat yang dikonsumsi, harus tetap diminum sesuai dengan arahan psikiater atau tenaga profesional yang ditunjuk. Sesi ini akan terus dilakukan hingga pasien benar-benar sudah sembuh dan mampu mandiri dalam menjalani kehidupan normalnya. Apabila dirasa pasien mengalami fase down lagi, maka harus segera berkonsultasi kembali. Hal ini dilakukan demi menjaga kondisi kesehatan mental dari pasien tetap stabil. 

Perawatan secara mandiri sudah jelas, lantas terapi perawatan intensif di rumah sakit harus seperti apa? Kurang lebih secara garis besar sama dengan perawatan mandiri di rumah, namun di rumah sakit pasien akan dipantau secara intens. Biasanya mereka-mereka yang harus dirawat secara intens di rumah sakit adalah pasien dengan gangguan berat, seperti bipolar dan skizofrenia yang mengalami kecemasan tidak terkontrol. Dua penderita ini harus diberikan obat penenang yang dalam pemberiannya berada di bawah pengawasan langsung tenaga kesehatan. Jaga kesehatan ya readers! Baik kesehatan fisik maupun mental. Tuntutan hidup yang terjadi seiring majunya perkembangan zaman, semoga tidak membuat kita lupa untuk tetap bersentuhan dengan lingkungan sekitar dan menjaga koneksi dengan manusia secara langsung.

(GE – FIR)

Scroll to Top