SCROLL UNTUK MELANJUTKAN BACA

Ini Dampak Buruk Kebiasaan Berbohong terhadap Kesehatan

Bagikan:

AshefaNews – Orang yang suka berbohong termasuk orang yang munafik dan tidak disukai oleh Allah SWT. Kebiasaan ini merupakan sikap yang tercela dan tidak baik untuk hidup Anda.

Berbohong atau menipu merupakan salah satu dari banyaknya akhlak tercela yang tentunya memberikan ‎kerugian kepada orang lain. Namun kebiasaan berbohong ini selain berdampak pada sosial, ‎ternyata akan berpengaruh juga loh terhadap kesehatan pelakunya.‎

Seseorang akan berbohong jika merasa terdesak, dengan harapan kebohongannya ini ‎mampu menyelesaikan masalah. Alih-alih menyelesaikan masalah, berbohong justrru hanya akan ‎memperumit masalah dan menambah yang ada.‎

Orang yang gemar berbohong bisa dikenali lewat beberapa tanda, diantaranya ialah; biasanya pelaku ‎akan menghindari kontak mata secara langsung dengan lawan bicara, sebab jika ia memandang mata lawan bicaranya tidak bisa dielakkan lagi ide untuk berbohongnya akan lenyap.

Hal ini dikarenakan munculnya ‎perasaan gelisah yang dialami pelaku saat berbicara, seperti menggigit bibir, memainkan sesuatu di tangan, mengalihkan pandangan dan masih banyak cara lainnya yang dilakukan pelaku untuk mengurangi perasaan gelisahnya itu.

Menurut ‎penelitian pula, volume suara pelaku berbohong tidak akan konsisten saat berbicara, bahkan ekspresi wajahnya ‎tidak selaras dengan yang dikatakan. Misalnya saja saat ditanya seseorang dia menggelengkan kepala padahal dia menjawab, ‘Ya’ bukan ‘tidak’.

Pelaku pun akan memberikan detail cerita yang terkadang tidak terlalu penting, tidak heran ia akan ‎kesulitan bercerita seperti tiba-tiba gagap atau sering berdeham dan pada akhirnya ia akan ‎mengalihkan atau mengganti topik pembicaraan agar kebohongannya tidak diketahui orang.‎

Perilaku ini sangat merugikan. Siapa sangka selain merugikan orang lain, berbohong juga akan merugikan pelakunya sendiri, sebab ia dampak buruk pada kesehatan. Diantaranya ialah terganggunya kesehatan mental.‎

Hal ini dikarenakan saat seseorang merasa terbebani secara fisik dan emosional saat berbohong, ‎terlebih jika suatu kebohongan diikuti dengan kebohongan lainnya dalam jangka waktu yang panjang. Secara otomatis ia akan mencari cara untuk menutupi semua kebohongan itu agar tidak diketahui orang lain, meski pada akhirnya semua akan terbongkar juga. ‎Maka kondisi inilah yang akan menyebabkan pelakunya stres.‎

Sebuah penelitian membuktikan jika stres yang dialami oleh pelaku berbohong dapat memicu berbagai gangguan ‎kesehatan yang cukup beresiko, seperti obesitas, gangguan kecemasan, depresi, kanker dan tekanan darah tinggi.‎

Kondisi ini diperburuk dengan hubungan social yang tidak baik. Sementara itu dalam studi lain menunjukan bahwa orang yang berkata jujur cenderung memiliki ‎hubungan yang lebih baik dengan orang di sekitarnya dan memiliki resiko yang lebih rendah untuk ‎terkena penyakit daripada orang yang sering berbohong.‎

Menurut Arthur Markman, Ph.D, dikutip dari lifehack, ia mengatakan jika berbohong akan memberika ‎pengaruh buruk untuk otak kita. Sebab ketika seseorang itu berbohong, maka tubuh akan melepaskan ‎kortisol atau hormon yang dikeluarkan tubuh saat stres ke dalam otak. Setelah beberapa menit ‎kemudian, ia akan berusaha mengingat kebohongan dan kebenaran sehingga otak akan cukup ‎kesulitan mengambil keputusan dan akan membuatnya menjadi kemarahan. ‎

Dalam Europe’s Joural of Psychology menjelaskan jika berbohong akan menyebabkan kebingungan ‎mengenai kebenaran sehingga seseorang akan dibuat percaya olehnya meski sesuatu itu belum ‎terjadi.‎

Perlu diketahui jika orang yang berbohong terbagi ke dalam dua jenis. Ada yang berbohong biasa, dan mythomania. Orang yang berbohong biasa seperti yang diketahui biasanya karena menghindari hukuman, menghindari rasa malu dan yang lainnya, yang pada intinya pelaku merasa dalam keadaan terdesak sehingga harus berbohong.

Namun mythomania bukanlah berbohong biasa. Pelakunya akan memiliki kebiasaan berbohong tanpa tujuan tertentu yang dilakukan secara terus menerus serta dalam jangka waktu yang lama. Mythomania memang tidak masuk kategori gangguan mental, namun ia merupakan gejala dari gangguan kepribadian anti-sosial.

Pelaku mythomania memiliki karakteristik khusus, yakni kebohongannya terlihat tidak memiliki keuntungan yang khusus, kisah yang diceritakan biasanya bersifat dramatis, rumit atau detail, mereka biasanya menggambarkan diri sebagai pahlawan atau korban dan tentunya mereka akan yakin dan percaya bahwa kebohongannya benar-benar terjadi.

Namun masuk pada kategori apapun itu, berbohong tetaplah hal yang tidak baik. Kebiasaan berbohong ini bahkan dianjurkan untuk dihindari meskipun dalam hal yang tidak ‎menampakkan resiko besar, seperti halnya dalam hadis berikut ini.‎

Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah, dia berkata,‎

دعتْني أُمي يومًا ورسولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلم قاعدٌ في بيتِنا فقالتْ: ها تعالَ أُعطيكَ فقال لها رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وما ‏أردتِ أنْ تعطيهِ ؟ قالتْ : أُعطيهِ تمرًا، فقال لها رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : أما إنك لو لمْ تُعطيهِ شيئًا كُتبتْ عليكِ كَذِبةٌ

Artinya, “Suatu hari ibuku memanggilku, sedangkan Rasulullah saat itu sedang duduk-duduk di rumah ‎kami. Ibuku bilang, “Sini nak! Aku beri kamu.” Rasulullah berkata kepada ibuku, “Kamu akan ‎memberinya apa?” Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya Tamr (kurma yang dikeringkan).” Lalu ‎Rasulullah bersabda, “Apabila kamu tidak memberinya sesuatu, maka akan ditulis kamu telah ‎berdusta.” [Hadis riwayat Abu Dawud dan dinyatakan sebagai hadis hasan oleh Al-Albani di dalam ‎Shahih Abu Dawud no. 4991‎

Maka tidak heran jika berbohong ini merupakan perilaku yang dilarang, bahkan diabadikan pula dalam ‎firman Allah SWT.‎

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya: “Sungguh telah kami uji orang-orang sebelum mereka, agar Allah mengetahui orang yang jujur ‎dan mengetahui orang yang dusta.” [QS. Al Ankabut: 3].‎

Bahkan apabila kebohongan ini ditujukan kepada Allah maka termasuk pada kedzaliman yang sangat ‎besar. ‎

شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ ۖ ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ ‏عَذَابَ ٱلْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَٰتِهِۦ تَسْتَكْبِرُونَ

Artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kebohongan terhadap Allah ‎atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun ‎kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”. ‎Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan ‎sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah ‎nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu ‎mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan ‎diri terhadap ayat-ayat-Nya.” [QS Al An’am ayat 93]‎

Pada redaksi lain pun diceritakan tentang kebohangan orang kafir dan balasannya.‎

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِٱلْحَقِّ لَمَّا جَآءَهُۥٓ ۚ أَلَيْسَ فِى جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكَٰفِرِينَ‏

Artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan ‎terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam ‎neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?” [QS Al-‘Ankabut Ayat 68]‎

Wallahu a’lam bishawab

(GE – DIN)

Scroll to Top