SCROLL UNTUK MELANJUTKAN BACA

Pengaruh Gadget Terhadap Kesehatan Mental

Bagikan:

AshefaNews – Kehadiran gadget memberikan banyak kemudahan bagi manusia. Namun perlu disadari pula pengaruh gadget terhadap kesehatan mental. Sebagaimana diketahui jika gadget mendatangkan banyak pengaruh baik itu negatif maupun positif. 

Diantara pengaruh positifnya yaitu kita mudah mendapatkan informasi ter-update, mempermudah informasi, mempersingkat waktu dan jarak sertaa gadget pun menjadi alat rekrasi. Bahkan di masa sekarang ini, gadget menjadi alat yang bisa menghasilkan uang.

Tapi sangat disayangkan akibat penggunaan gadget secara berlebihan memberikan pengaruh terhadap kesehatan mental.  Disadur dari Jurnal hubungan intensitas penggunaan gadgaet terhadap kesehatan mental anak, berdasarkan Data dari Riskesdas pada tahun 2007, diketahui bahwa prevalensi gangguan mental emosional adalah sebesar 11,6% dari populasi orang dewasa yaitu sebanyak

1.740.000 yang mengalami gangguan mental emosional. Sedangkan pengaruhnya pada anak-anak, sekitar 1 juta anak-anak mengalami gangguan mental emosi. Sungguh mengerikan, jika pada tahun 2007 pun sudah sebanyak itu lalu bagaimana pada tahun 2022. Di mana semua orang nyaris sudah ketergantungan pada gadget.

Tidak dipungkiri pula, hanya melihat dari sudut pandang kesehatan mental, banyak sekali dampak buruk yang ditimbulkan akibatnya. Adapun berikut ini dua pengaruh gadget terhadap kesehatan mental yang paling rawan dan berakibat fatal dibandingkan dengan pengaruh buruk gadget lainnya.

Pengaruh Gadget Terhadap Kesehatan Mental: Pertama, Cyberbullying 

Cyberbullying merupakan situasi saat seseorang menggunakan teknologi untuk mempermalukan, melecehkan bahkan sampai pada kasus menggertak pihak lain. Cyberbullying diantaranya mencangkup postingan yang menyatakan tidak benar atau salah, seseorang akan membuat akun palsu yang bertujuan untuk mempermalukan orang lain, berbagi foto yang memalukan dan masih banyak lagi.

Mudahnya seseorang membuat akun membuat seseorang mudah pula membully orang lain. Hal ini dibuktikan dengan adanya riset yang menyatakan bahwa 60% dari 1500an remaja di Singapura, usia 12-18 tahun mengalami cyberbullying. 

Bahkan berdasarkan riset nicrosoft yang dilakukan pada kurun waktu Mei-April tahun 2020, dengan tolak ukur “Digital Civility Index” atau “Indeks Keberadaban Digital”, data menunjukkan tingkat keberadaban netizen dalam dunia digital sangat buruk. 

Hasilnya cukup mengejutkan, sebab netizen Indonesia masuk ke dalam urutan ke-29 atau ketiga terendah sebagai ‘netizen tidak sopan’. Dengan jumlah total 16.000 responden yang dilakukan di 32 negara dengan 503 netizen Indonesia. Adapun faktor yang mempengaruhi penilaian ini adalah tindakan yang dilakukan ketika berselancar di dunia maya dan media sosial.

Generasi millenial, gen z dan gen x menjadi kelompok yang paling sering menjadi sasaran bullying di media sosial. Berdasarkan kualifikasi usia, Millennial (1980-1995) angkanya mencapai 54%, sedangkan Generasi Z (1997-2000) 47%, generasi X (1965-1980) 39%, dan baby boomers (1946-1964) 18%.

Menurut hasil riset U-Report Indonesia, mengungkapkan bahwa anak muda berada diurutan kedua, setelah pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kasus cyberbullying ini. 

Temuan dari riset Unicef, dampak negatif dari cyberbullying diantaranya merasa malu berlebihan, bodoh, bahkan marah, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Tidak hanya itu, ada juga yang bisa menarik diri dari lingkungannya, seperti tiba-tiba jarang terlihat dan lebih suka menyendiri. Bahkan lebih buruk bisa sampai percobaan bunuh diri. Tidak sedikit pula yang pernah menjadi korban bullying akan menjadi murung dan sensitif.

Pengaruh Gadget Terhadap Kesehatan Mental: kedua, Depresi

Remaja yang menghabiskan waktu dengan gadget akan mengalami 2x lebih besar, selalu dibebani rasa bersalah, merasa putus asa, rendah diri dan bahkan merasa tidak berharga.

Mudah badmood, sedih secara berkelanjutan, tidak jarang pula mudah marah atau sensitif, serta mudah menangis. Ciri-ciri depresi pun akan nampak ketika remaja kesulitan konsentrasi, berpikir, dan mengambil keputusan. 

Berdasarkan penelitian dari University of Arizona, mengungkapkan jika ketergantungan seseorang terhadap ponselnya dapat menimbulkan perasaan kesepian dan depresi. Dipublikasikan pada Journal of Adolescent Health, penelitian ini melibatkan 346 partisipan dengan rentan usia 17-20 tahun. 

Para peneliti memilih “remaja yang menuju dewasa” dengan alasan bahwa mereka adalah pihak yang akan tumbuh bersama gadget. Serta kelompok usia ini sangat rentan terhadap isu kesehatan mental.

Di awal studi, para partisipan diminta menjawab pertanyaan dengan skala empat poin untuk menilai pernyataan yang telah disediakan pada quisioner tentang kesehatan mental dan kebiasaan menggunakan gadget. 

Penelitian akhirnya dilanjutkan empat bulan kemudian, di mana mereka diminta mengisi quesioner tahap kedua. Hasilnya pada penelitian ini menunjukkan bahwa ketergantungan smartphone ternyata berkaitan langsung dengan gejala depresi remaja.

Dalam survei lain yang dilakukan terhadap 135 siswa, para peneliti menemukan bahwa remaja yang sering menggunakan gadget ialah kelompok remaja yang paling banyak dilaporkan mengalami tingkat perasaan terisolasi, kesepian, depresi dan cemas yang lebih tinggi.

Hal ini terjadi akibat kecanduan perilaku penggunaan smartphone akan mulai membentuk koneksi neurologis di otak dengan cara yang mirip dengan bagaimana kecanduan yang dialami oleh orang yang memakai Oxycontin untuk menghilangkan rasa sakit. 

Kondisi ini cukup mengerikan. Sehingga para remaja perlu dibekali dengan kemampuan mengendalikan dan melatih diri untuk mengurangi kecanduan gadget. Bahkan disarankan agar kita mematikan notifikasi, dan hanya menanggapi email atau media sosial pada waktu tertentu agar tetap bisa konsentrasi pada hal-hal yang penting saja.

Sebab berdasarkan studi dari University of Southern California yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) pada 2600 anak sekolah di Los Angeles selama 2 tahun menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan disebut 2 kali lebih berisiko menunjukkan gejala ADHD. 

ADHD merupakan sebuah kondisi gangguan perkembangan yang membuat seorang anak kesulitan untuk memusatkan perhatian. Selain daripada itu, mereka menunjukkan perilaku yang impulsif serta agresif dari para korban. Inilah yang pada akhirnya membuat mereka tampak senang mengganggu orang lain yang sedang beraktivitas. Para korban ADHD tampak kurang bisa fokus pada pelajaran di kelas, mereka kesulitan mendengarkan penjelasan guru dan sulit mengatur tugas serta aktivitasnya sehingga membuat mereka tidak bisa produktif.

Adapun cara untuk mencegah kecanduan gadget bisa dengan menerapkan batas waktu penggunaan internet serta media sosial. Tidak lupa juga batasi penggunaan video game, televisi, dan gadget lainnya.

Untuk memenuhi rasa ingin tahu yang besar, remaja bisa menghabiskan waktunya dengan mengeksplorasi di dunia nyata dan membatasi dunia maya. Seperti halnya melakukan hobi, bereksperimen, latihan olahraga atau memasak, berjalan-jalan, mengunjungi saudara, bermain di taman, atau sekadar berdiskusi dan mengobrol santai.

Oleh karenanya, penting bagi remaja untuk mau bersosialisasi dengan orang lain. Sebab komunikasi dan interaksi secara langsung akan mengalihkan perhatian kita dari penggunaan gadget. 

Di sisi lain, untuk mengefektifkan penggunaan gadget. Remaja perlu mengarahkannya untuk hal yang positif. Seperti mengasah minat, potensi dan bakat agar pada akhirnya pengaruh gadget menjadi ke arah positif.

(GE – DIN)

Scroll to Top