SCROLL UNTUK MELANJUTKAN BACA

7 Fakta yang Sedikit Diketahui tentang Anak Pertama

Bagikan:

AshefaNews –  Fakta Yang Sedikit Diketahui Tentang Anak Pertama. Kebanyakan orang tua atau kakek nenek, tahu bahwa anak pertama istimewa. Tapi tahukah bahwa ada beberapa fakta menarik tentang mereka yang mungkin belum diketahui? Yuk simak mengapa anak pertama bisa begitu istimewa !

7 Fakta yang Sedikit Diketahui tentang Anak Pertama

Anak pertama seringkali menjadi pusat perhatian dan menerima banyak kasih sayang orang tua. Tapi tahukah kamu bahwa ada beberapa fakta yang tidak banyak diketahui tentang anak pertama? Berikut adalah tujuh fakta yang tidak banyak diketahui tentang anak pertama:

1. Anak pertama lebih sering sakit di masa kanak-kanak. Menurut penelitian, anak pertama lebih rentan mengalami sakit. Saat beranjak dewasa lebih mungkin mengalami masalah kesehatan seperti asma, infeksi telinga, dan diare.

Hal ini dikarenakan pengalaman awal orang tua dapat membangun atau merusak kebiasaan perkembangan yang sehat. Diperkirakan juga bahwa stres dari tanggung jawab baru dapat berperan dalam masalah kesehatan bagi anak pertama.

2. Anak pertama seringkali memiliki IQ lebih tinggi daripada anak-anak berikutnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktor seperti perawatan prenatal yang lebih baik, paparan dini terhadap bahasa dan rangsangan lingkungan lainnya, dan bakat genetik yang membuat mereka cenderung berperilaku cerdas. Namun, ini tidak berarti bahwa setiap anak sulung secara otomatis pintar, karena banyak anak kedua juga memiliki IQ tinggi!

3. Anak pertama menghasilkan lebih banyak uang daripada anak yang lahir setelahnya. Faktanya, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The Review of Economics & Statistics, anak pertama lebih mungkin menghasilkan lebih banyak uang sepanjang hidup mereka daripada anak yang lahir belakangan terlepas dari ras atau jenis kelamin.

Satu penjelasan yang mungkin untuk fenomena ini adalah bahwa orang dengan pendapatan lebih tinggi umumnya lebih bijaksana dan lebih sukses, daripada mereka yang memiliki pendapatan lebih rendah. Jika kamu anak pertama jangan galau tentang rezeki ya, menjadi anak pertama adalah keberuntungan, jangan lupa berdoa dan terus berusaha ya!

4. Anak pertama  lebih cenderung memiliki masalah perkawinan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam The Journal of Marriage and Family menemukan bahwa anak sulung lebih mungkin mengalami konflik dan perselisihan perkawinan daripada anak-anak berikutnya. 

Ini mungkin karena anak sulung seringkali memiliki lebih banyak tuntutan waktu dan tenaga, sehingga menimbulkan ketegangan di rumah. Selain itu, anak sulung dianggap lebih mandiri dalam mengatur jalan kehidupannya. Oleh karena itu, kebanyakan anak pertama tidak suka diatur dalam batasan dalam hidupnya.

5. Anak pertama cenderung memberontak terhadap aturan keluarga. Kebanyakan orang tua mengalami permasalahan dengan anak pertamanya, karena cenderung brontak terhadap peraturan dalam keluarga. Apalagi jika masuk usia labil, yang dapat menekan orang tua untuk memberikan apa yang mereka inginkan!

6. Anak pertama seringkali memiliki tingkat masalah kesehatan mental yang lebih tinggi. Sebuah studi yang diterbitkan dalam The Journal of Child Psychology and Psychiatry menemukan bahwa anak sulung secara signifikan lebih mungkin menderita masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan ADHD dibandingkan anak-anak berikutnya. Faktor-faktor yang dapat berkontribusi pada tren ini termasuk paparan awal terhadap stres dan tantangan hidup, kesepian, dan tantangan perkembangan.

7. Anak pertama lebih cenderung berjuang secara akademis. Sebuah studi yang diterbitkan dalam The Review of Educational Research menemukan bahwa anak sulung lebih mungkin mengalami kesulitan di sekolah daripada anak-anak berikutnya, ketika mereka memiliki tingkat kecerdasan dan kemampuan akademik yang sama dengan teman sebayanya. Ini mungkin karena anak sulung sering sibuk mengatur urusannya sendiri di rumah dan di tempat kerja, sehingga hanya menyisakan sedikit waktu untuk tugas sekolah.

8. Anak pertama sering menjadi pusat perhatian. Semua orang ingin tahu segalanya tentang dia dan apa yang dia lakukan. 

9. Anak pertama seringkali memiliki lebih banyak energi daripada saudara kandung mereka yang lahir kemudian. Mereka mungkin senang dengan semua hal baru yang terjadi dalam hidup mereka dan ingin menjelajahi setiap sudut dan celah.

10. Orang tua sering merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan anak pertama. Banyak orang tua merasa tidak yakin dalam mengambil keputusan untuk mengasuh anak. Anak pertama biasanya cenderung lebih aktif dan susah diatur, tentu hal ini membuat orang tua menjadi bingung.

5 Hal yang biasanya dialami Ibu Anak Pertama

Ada beberapa kondisi yang biasanya dialami oleh ibu yang baru pertama kali memiliki anak, antara lain:

1. Ibu anak pertama lebih mungkin mengalami depresi dan psikosis pascapersalinan

Setelah melahirkan, ibu pertama lebih mungkin mengalami depresi dan psikosis pasca persalinan. Kondisi kesehatan mental ini bisa terjadi berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan setelah melahirkan dan bisa menjadi sangat serius.

Depresi dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan, insomnia, dan perasaan putus asa. Psikosis pasca persalinan adalah kondisi langka yang menyerang wanita segera setelah melahirkan. Gejalanya bisa berupa halusinasi, delusi, dan paranoia yang intens. 

2. Ibu anak pertama juga lebih mungkin mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD)

Setelah melahirkan, ibu anak pertama juga lebih mungkin mengalami gangguan stres pasca trauma (PTSD). PTSD adalah suatu kondisi yang dapat terjadi setelah terpapar peristiwa traumatis, seperti bencana alam, serangan teroris, atau kecelakaan mobil. Gejalanya bisa berupa mimpi buruk, kilas balik, dan perasaan terlepas dari kenyataan. PTSD bisa sangat sulit diatasi dan dapat menyebabkan masalah jangka panjang baik dalam kesehatan emosional maupun fisik.

3. Ibu anak pertama juga lebih mungkin mengalami sakit kronis

Ibu anak pertama juga lebih mungkin mengalami sakit kronis. Nyeri kronis adalah nyeri persisten yang berlangsung lebih dari enam bulan atau menyebabkan kecacatan yang signifikan. Banyak wanita mengalami nyeri kronis setelah melahirkan karena trauma fisik saat melahirkan atau perubahan hormonal yang menyertai kehamilan dan menyusui.

Obat pereda nyeri bisa sangat efektif dalam mengatasi nyeri kronis, tetapi obat ini juga memiliki efek samping seperti mengantuk, pusing, dan kecanduan. Pilihan pengobatan termasuk pengobatan, terapi fisik, dan penyesuaian chiropractic.

4. Ibu anak pertama lebih cenderung mengalami kecemasan dan stres

Ibu anak pertama lebih cenderung mengalami kecemasan dan stres. Kondisi ini bisa umum terjadi setelah melahirkan dan bisa menimbulkan perasaan kelelahan dan stres. Kecemasan dapat menyebabkan sulit tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan perasaan tidak aman secara umum. Stres dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan, kelelahan, dan sakit kepala. Pilihan pengobatan termasuk obat-obatan, psikoterapi, dan vitamin dan mineral tambahan.

5. Ibu anak pertama lebih mungkin mengalami depresi pasca melahirkan

Ibu anak pertama lebih mungkin mengalami depresi pasca melahirkan. Depresi pasca melahirkan merupakan kondisi yang dapat terjadi setelah melahirkan dan dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Gejalanya bisa berupa hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan, insomnia, dan perasaan putus asa. Depresi dapat menyebabkan hilangnya minat dalam Aktivitas Kehidupan Sehari-hari, seperti mandi, berpakaian, atau makan. Pilihan pengobatan termasuk obat-obatan, psikoterapi, dan vitamin dan mineral tambahan.

(GE – GUR)

Scroll to Top