SCROLL UNTUK MELANJUTKAN BACA

Mengenal Reenactor, Bergaya Seperti Tentara Perang Dunia II

Bagikan:

AshefaNews, Jakarta – Beragam cara dilakukan untuk mempelajari sejarah, mulai dari membaca buku, literasi sejarah, diskusi, mengunjungi museum atau menonton film atau dokumenter tentang sejarah itu tersebut. Namun ada hal unik yang dilakukan sebagian orang, yaitu dengan melakukan reka ulang sejarah.

Kegiatan reka ulang tersebut sering dinamai reenactment, dalam kamus Bahasa Inggris-Indonesia memiliki arti peragaan. Reenactment dalam hal ini, merupakan peragaan/ reka ulang suatu peristiwa yang pernah terjadi. Pelakunya sendiri disebut reenactor.

Reka ulang di sini, lebih cenderung memperagakan sejarah pertempuran era perang dunia kedua, termasuk juga era kemerdekaan Indonesia.

Salah satu pegiat reka ulang sejarah atau yang disebut reenactor, Errol Tornado menjelaskan, reenactor merupakan hobi reka ulang sejarah. Dimana para pegiatnya, berdandan sesuai dengan era masa lalu.

“Reenactor itu pelaku reka ulang sejarah yang ada sesuai masanya. Seperti reka ulang perang dunia pertama, kedua atau perang setelah masa itu,” kata Errol kepada Ashefanews, Rabu (14/12/2022).

Meskipun mereka bergaya seperti tentara era masa lalu, dalam tiap kegiatannya mereka tidak sembarang dalam menggunakan kostum. Para reenactor yang memiliki komunitas cukup banyak ini, mengaku melakukan riset mendalam terkait peristiwa sejarah yang akan diperagakan ulang.

“Komunitas reenactor tidak hanya main perang-perangan saja. Kami meriset mulai dari peristiwa masa lalu, kostum hingga unit-unit (senjata) yang digunakan pada saat itu,” kata Errol yang tergabung dalam komunitas Reenactor Bangor.

Banyak reka ulang yang dilakukan oleh para reenactor ini. Seperti reka ulang perang dunia pertama, perang dunia kedua mulai dari pasukan sekutu Amerika Serikat, Inggris, Jerman era Nazi bahkan Tentara Merah Rusia.

Tidak hanya itu, mereka juga mereka ulang sejarah perang kemerdekaan. Mulai dari pejuang Indonesia seperti BKR/ TKR (cikal bakal TNI), tentara PETA, dan laskar lainnya. Tidak hanya itu, di komunitas ini juga ada yang berdandan menjadi pihak penjajah seperti tentara Jepang, Inggris dan tentara Belanda seperti Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) atau Nederlandsch Indische Civiele Administratie, atau yang lebih dikenal dengan pasukan Andjing NICA.

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, untuk memperagakan reka ulang tersebut mereka riset secara detail. Riset dan hal mendasar yang harus dilakukan adalah memiliki kostum yang otentik dengan aslinya.

“Mulai dari seragam, perlengkapan lain harus kita samakan dengan era masa itu. Minimal keakuratan ya 90 persen lah,” kata Errol, yang tinggal di sekitaran Ciputat, Tangerang Selatan.

Bicara koleksi Errol menjelaskan, perabotan reenactor terbagi menjadi dua, yaitu relic (barang asli peninggalan) dan replika. Untuk saat ini, koleksi yang ia miliki antara lain; seragam Waffen-SS era Jerman Nazi, seragam KNIL dan seragam NICA.

“Dalam komunitas kami, terbagi menjadi dua untuk koleksi yang bisa dimiliki. Ada yang relic dan replika,” imbuhnya.

Bagi Errol, mengumpulkan koleksinya itu tidak mudah. Bahkan tidak sedikit koleksinya harus diimpor dari luar negeri. Namun, beberapa seragam dan perlengkapan lain ada yang buatan Indonesia.

“Untuk koleksi khususnya seragam Jerman era Nazi, sebagian besar punya saya impor. Untuk yang lain ada yang lokal,” kata Errol.

Reenactor memang kegiatan hobi menarik, karena bisa menjadi sarana belajar sejarah yang tepat. Bukan hanya baca buku sejarah, tetapi terjun langsung mereka ulang peristiwa tersebut.

“Bagi yang suka sejarah, reenactor ya pas. Karena kami di sini bukan hanya bicara, diskusi, atau baca buku. Tetapi kita langsung terjun memperagakan peristiwa masa lalu yang pernah terjadi berdasarkan riset dan referensi,” ujar Errol.

Selain sebagai media edukasi, adanya komunitas ini juga memacu jantung ekonomi. Karena berimbas pada pengusaha lokal yang akhirnya membuat kostum ala sejarah.

“Kita di sini enggak mematok koleksi harus asli atau impor. Sekarang banyak teman-teman reenactor lain yang memproduksi kebutuhan reka ulang sejarah,” kata Errol.

Meskipun tergolong hobi mahal, Errol juga tidak langsung mengumpulkan koleksi secara lengkap. Bahkan ada beberapa reenactor yang harus merogoh kocek puluhan juta rupiah, untuk impresi yang dia inginkan.

“Ada yang sampai puluhan juta. Kalau saya sendiri lupa nggak terhitung, mungkin belasan juta rupiah untuk hobi ini. Tapi bagi yang minat, nggak usah minder. Untuk koleksi lengkap saya saja, saya cicil,” pungkasnya.

(RM – UT)

Scroll to Top