SCROLL UNTUK MELANJUTKAN BACA

Bacaan Dzikir dan Doa Setelah Sholat Fardhu Sesuai Hadist Shahih

Bagikan:

AshefaNews – Shalat fardu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim, bagaimanapun keadaannya. Bahkan dalam kondisi sakit dan hanya bisa berbaring, kewajiban itu tetap tak boleh ditinggalkan. Setelah shalat fardu, disunahkan untuk dzikir dan berdoa. Berikut bacaan dzikir dan doa setelah shalat fardu sesuai tuntunan Nabi SAW.

  1. Dari Tsauban, ia berkata : Dahulu Rasulullah SAW apabila selesai dari shalat, beliau memohon ampun (membaca istighfar) tiga kali. Lalu beliau membaca, “Alloohumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaaroktadzal jalaali wal ikroom“. (Ya Allah, Engkau Maha Selamat, dan dari Engkaulah datangnya keselamatan, Engkau Maha Berkah, wahai Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia). Al-Walid berkata : Aku bertanya kepada Al-Auza’iy, “Bagaimana bacaan istighfar itu ?”. Al-Auza’iy menjawab, “Astaghfirullooh, astaghfirullooh”. (Aku mohon ampun kepada Allah, aku mohon ampunan kepada Allah). [HR. Muslim juz 1, hal. 414, no. 135]
  2. Dari Tsauban, ia berkata : Dahulu Rasulullah SAW apabila selesai dari shalat, beliau memohon ampun (membaca istighfar) tiga kali. Lalu beliau membaca, “Alloohumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroom“. (Ya Allah, Engkau Maha Selamat, dan dari Engkaulah datangnya keselamatan, Engkau Maha Berkah, wahai Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia). [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 300, no. 928]
  3. Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu Nabi SAW apabila setelah salam, beliau tidak duduk kecuali sekedar membaca, “Alloohumma antas salaam, waminkas salaam, tabaarokta dzal jalaali wal ikroom”. (Ya Allah, Engkau Maha Selamat, dan dari Engkaulah datangnya keselamatan, Engkau Maha Berkah, wahai Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia). Dan dalam riwayat Ibnu Numair Yaa dzal jalaali wal ikroom. [HR. Muslim juz 1, hal. 414, no.136]
  4. Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa yang setiap habis shalat membaca tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, tahmid sebanyak tiga puluh tiga kali, takbir sebanyak tiga puluh tiga kali, yang demikian itu berarti sembilan puluh sembilan kali”. Nabi SAW bersabda, “Dan genap seratusnya ia mengucap, Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. (Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), niscaya diampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di laut”. [HR. Muslim juz 1, hal. 418, no. 146].
  5. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Orang-orang faqir datang kepada Nabi SAW lalu berkata, “Orang-orang kaya dan berharta bisa mendapatkan derajat yang tinggi dan keni’matan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, mereka mempunyai kelebihan harta sehingga bisa berhajji, ber’umrah, berjihad dan bersedeqah”. Nabi SAW bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian dengan sesuatu yang apabila kalian lakukan, kalian akan mendapatkan apa yang didapatkan orang-orang yang mendahului kalian (dalam beramal) dan tidak seorangpun sesudah kalian yang menyusul kalian (beramal), dan kalian menjadi sebaik-baik orang diantara kalian, kecuali orang yang mengamalkan seperti itu juga. Yaitu kamu bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali”. Lalu diantara kami ada perbedaan pendapat. Sebagian ada yang berpendapat bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh empat kali. Lalu aku (tanyakan) kembali kepada beliau, maka beliau bersabda, “Bacalah Subhaanallooh, wal hamdulillaah, walloohu akbar”. Sehingga masing-masingnya itu dibaca tiga puluh tiga kali”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 205].
  6. Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Beberapa bacaan yang dibaca setiap habis shalat fardlu yang tidak akan membuat rugi bagi orang yang membacanya atau mengerjakannya ialah tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid, dan tiga puluh empat kali takbir”. [HR. Muslim juz 1, hal. 418, no. 144].
  7. Dari Warrad juru tulisnya Al-Mughiirah bin Syu’bah, ia berkata : Mu’awiyah berkirim surat kepada Al-Mughirah yang isinya, “Tuliskanlah untukku sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah SAW”. Warrad berkata : Mughirah pun membalas berkirim surat kepada Mu’awiyah yang isinya, “Aku mendengar Rasulullah SAW apabila selesai shalat, beliau membaca Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. Alloohumma laa maani’a limaa a’thoita, wa laa mu’thiya limaa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu. (Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang bisa menghalangi terhadap apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa memberi terhadap apa yang Engkau halangi, dan tidaklah bermanfaat orang yang mempunyai kekayaan, dari Engkau lah kekayaan itu”. [HR. Muslim juz 1, hal. 415, no. 138].
  8. Dari Abuz Zubair, ia berkata : Dahulu Ibnuz Zubair setiap sesudah shalat (wajib), yaitu sesudah salam, membaca “Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syaiin qodiir. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah, laa ilaaha illallooh, wa laa na’budu illaa iyyaah, lahun ni’matu wa lahul fadllu, wa lahuts tsanaa-ul hasan. Laa ilaaha illalloohu mukhlishiina lahud-diina walau karihal kaafiruun” (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah, kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya, bagi-Nya segala keni’matan, bagi-Nya segala keutamaan, dan bagi-Nya segala sanjungan yang baik. Tidak ada Tuhan selain Allah, kami menjalankan agama ini setulusnya kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir membencinya)”. Dan (Ibnuz Zubair) berkata, “Dahulu Rasulullah SAW mengucapkan demikian setiap sesudah shalat (wajib)”. [HR. Muslim juz 1, hal. 415, no. 139].
  9. Dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Ada dua perkara, tidaklah seorang muslim menjaga atas keduanya kecuali dia masuk surga. Dua perkara itu mudah, tetapi orang yang mengamalkannya sedikit, yaitu setiap sehabis shalat (fardlu) membaca tasbih sepuluh kali, membaca tahmid sepuluh kali, dan membaca takbir sepuluh kali. Maka yang demikian itu adalah seratus lima puluh di lisan, dan seribu lima ratus pada timbangan amal. Dan apabila akan tidur membaca takbir tiga puluh empat kali, membaca tahmid tiga puluh tiga kali, dan membaca tasbih tiga puluh tiga kali. Maka yang demikian itu adalah seratus di lisan, dan seribu pada timbangan amal”. (Abdullah bin ‘Amr) berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah SAW menghitungnya dengan tangannya”. Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana keduanya itu mudah sedang orang yang mengamalkannya sedikit ?”. Rasulullah SAW menjawab, “Datang kepada seseorang diantara kalian (yaitu syaithan) pada tempat tidurnya, lalu ia menidurkannya sebelum orang itu sempat membacanya, dan (syaithan) datang kepadanya di dalam shalatnya, lalu mengingatkan orang itu pada kebutuhannya sebelum orang itu sempat membacanya”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 316, no. 5065]. 


(GE – HKM)

Scroll to Top